Suatu hari, hiduplah seorang ayah dan anak yang bernama Dam. Dam adalah salah satu anak yang dibesarkan oleh cerita dongeng dan dengan mudah nya ia pun percaya dengan segala dongeng yang diceritakan Sang Ayah.

Sang Ayah menceritakan mulai dari tentang kedekatan nya dengan pemain sepakbola dengan nomor punggung sepuluh “El Capitano! El Prince”, surat menyurat dengan pemain bola tersebut, mendapat apel emas dari lembah bukhara, berteman baik dengan Si Raja Tidur.

Tetapi, suatu hari saat Dam bersekolah di Akademi Gajah, ia menemukan buku dongeng “Lembah Bukhara” di perpustakaan sekolah. Dam teringat pada cerita Sang Ayah. Akhirnya ia menyadari bahwa ia tertipu oleh Sang Ayah atas cerita yang diberikan. Dari sejak saat itu, Dam tidak mau mempercayai lagi cerita yang Sang Ayah berikan. Cukup baginya tertipu terus menerus. Akhirnya sejak itu, hubungan Dam dan Sang Yah mulai renggang.

Setelah bertahun-tahun kemudian, akhirnya Dam menikah dan dikaruniai dua anak laki-laki yang bernama Zas dan Qon. Dam berusaha menjauhkan anak-anaknya dari Sang Ayah agar tidak mendengarkan cerita bohong nya itu. Tetapi semua itu sulit, Sang Ayah memang pandai bercerita.

Sekarang Sang Ayah sudah tua, sudah memiliki dua cucu, tetapi Dam masih kesal dengan cerita-cerita bohong itu. Sang Ayah sudah tinggal bersama Dam selama 6 bulan, tetapi Dam masih tidak peduli dengan Sang Ayah. Hingga suatu hari Sang Ayah jatuh sakit. Dam mulai menyadari bahwa Sang Ayah membutuhkan nya. Dam pun menyesal selama ini sudah tidak peduli terhadap Sang Ayah.

Beberapa hari kemudian sejak jatuh sakit, akhirnya Sang Ayah meninggalkan Dam lebih cepat. Keesokan harinya, Sang Ayah pun dimakankan. Antrean pelayat mengulur panjang. Tak disangka Sang Pemain bola nomor sepuluh datang ke pemakaman Sang Ayah. Bukan hanya pemain no sepuluh saja yang datang, tetapi semua tokoh yang Sang Ayah ceritakan benar-benar datang. Bahkan Sang Kapten mengatakan bahwa ia sangat dekat dengan Sang Ayah, ia menyesal tidak pernah menemui Sang Ayah lagi setelah beberapa waktu. Saat itu akhirnya Dam mendapat kebenaran, bahwa Sang Ayah bukan pembohong.